Pages

Selamat datang di Website khusus Wisata Malang Raya, sebelum keluar jangan lupa tinggalkan komentar anda




Tampilkan postingan dengan label Cagar Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cagar Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2011

Alun - ALun Kota Batu



Layaknya Alun – Alun di daerah lain, alun alun kota batu ini lokasinya juga sangat strategis, di tengah area Masjid, tempat wisata, pasar juga sekolahan. Alun – Alun batu memang tak seramai alun alun Merdeka, namun saat menjelang akhir pecan atau pas ada acara Ulang tahun kota Batu, Tempat ini ramai banget, karena seluruh agenda semua di pusatkan disini.

Pada tanggal 2 mei – 8 mei 2011 Alun alun batu telah di renovasi, wajah baru Alun – Alun kota Batu ini makin indah dengan ditambahkannya beberapa permainan. Kalau anda pergi jalan – jalan ke kota batu, ngga ada salahnya anda untuk mampir di Alun – Alun Batu ini dengan menikmati berbagai kuliner Malang raya. Anda juga bisa menikmati kesejukan kota Batu yang terkenal dengan sentra sayur – Sayuran di Malang raya juga daerah penghasih Apel terbesar di Indonesia.


Anda bisa membeli oleh – oleh Khas Batu yang dijajakan oleh penjual di kios di pinggiran Alun – Alun, harganya juga ngga mahal. Semuanya di tunggu untuk kedatangannya di Alun – Alun Kota batu

Alun - Alun Merdeka


Alun – alun Merdeka terletak di tengah kota Malang. Dengan pemandangan yang lumayan bagus, di sisi kanan kiri adalah Masjid, Gereja, Kantor bupati Malang, Mall, Pusat perbelanjaan dan tempat hiburan yang lumayan bagus. Alun – alun merdeka kalau sore cukup ramai sekali, dari orang yang Cuma sekedar jalan – jalan, terus pedagang kaki lima, pengihibur, dan juga tempat kumpulnya komunitas punk Malang.
Namun ada satu beberapa hal yang kurang baik untuk dipandang mata, banyak orang berpacaran, terus sekalipun sudah disediakan tempat sampah namun masih banyak juga yang membuang sampah sembarangan, serta banyak pengamen yang maksa. Kalau kita ngga ngasih uang, mereka tidak akan pergi. Jadi kalau pengen jalan – jalan atau sekedar cuci mata ke alun – alun malang ini, mending anda siapin dulu uang receh.
Semakin lama Alun –Alun malang terus berbenah agar makin kelihatan bagus, dan untuk mewujudkan Icon kota malang sebagai Kota Bunga, di Alun – alun ini juga banyak ditanami bunga dan juga pohon – pohon jadi makin rindang. Terus ditambahkannya ratusan burung merpati makin menambah keindahan Alun – Alun merdeka ini.

Alun - Alun Tugu


Alun-alun ini merupakan sebuah alun-alun atau tanah lapang di kota Malang yang di bagian tengahnya terdapat sebuahtugu dikelilingi kolam air bundar dengan tanaman teratai. Alun-alun ini terletak di depan gedung balai kota. Pada era tahun 90an alun-alun ini terkenal dengan nama alun-alun bunder. Masyarakat menjulukinya alun-alun bunder karena berbentuk lingkaran. Tugu yang berada di bagian tengah alun-alun dibangun pada tahun 1945 walaupun masih berupa pondasi. Tugu ini pernah dihancurkan Belanda ketika mereka menguasai kota Malang . Pada tahun 1952 tugu ini dibangun kembali dan diresmikan oleh presiden Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Alun-alun bundar merupakan markah tanah Malang.

Namun, mulai tahun 2000, julukan alun-alun bunder perlahan sirna. Masyarakat mulai menjulukinya alun-alun Tugu.

Karena di tengah alun-alun itu terdapat tugu Kota Malang, juga terdapat Hotel Tugu yang sudah terkenal di Kota Malang. Alun-alun ini merupakan icon Kota Malang.

Ijen Boulevard


Mengenang sejarah di masa lampau memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Begitupun Kota Malang tempat saya berkuliah dulu (meski keluarga saya tinggal di Tumpangtapi cinta banget ama Malang), dengan banyak sebutan seperti Makobu (Malang Kota Bunga), Kota Dingin dan Kota Pelajar, Kota Malang juga memiliki aset sejarah yang tidak sedikit.
Salah satunya adalah Ijen Boulevard yang terletak di Jalan Ijen Kota Malang, begitu indah dan sejuk dipandang mata. Ijen Boulevard dahulunya merupakan kompleks elit orang Belanda dan dari sisi desain lansekapnya sangat apik dan sangat diperhitungkan sekali seperti komplek bangunan, pedestrian, jalan, maupun median jalannya.
Komplek bangunan
Dahulunya komplek bangunan di Jalan Ijen ini sangat kental dengan bangunan Belanda pada umumnya. Namun sayangnya keadaan bangunan banyak yang mulai berubah seiring perkembangan jaman. Dan apa daya untuk mengembalikan seperti semula juga tidak memungkinkan, hanya berharap kondisi asli yang masih bertahan tetap dijaga oleh pemiliknya. Di sana juga terdapat Museum Brawijaya Malang yang konon katanya menghalangi pemandangan Gunung jika kita datang dari arah Jalan Semeru.

Sumber Kota Malang

Museum Brawijaya


Latar Belakang dan Sejarah

Tahun 1952. Museum didirikan dengan melatar belakangi perjuangan TKR dan rakyat Jatim dari Agresi Militer Belanda I dan II.
Museum Brawijaya dibangun atas prakarsa oleh brigjen TNI (Purn) Soerachman Pengdam VIII/BRW Tahun 1959 - 1962.
Motto Museum Brawijaya "CITRA UTHA PANA CAKRA (cahaya yang membangkitkan semangat)".
Museum Brawijaya diresmikan pada tanggal 04 Mei 1968 oleh Kolonel Pur. Dr. Soewondo. Terkenal dengan nama CITTA UTTHAPANA CAKRA yang berarti Api Penyebar Semangat dengan luas area mencapai 6825 m2, terbagi atas 2 area utama. Yaitu area pamer dan perkantoran. Berikut ini beberapa koleksi dari museum Brawijaya. Di depan museum itu dipajang koleksi Tank yang digunakan pada pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya. Kemudian ada senjata penangkis Serangan Udara yang disita oleh BKR pada September 1945 dari tangan Tentara Jepang. Meriam Cannon 3,5 Inch yang diberi nama Si Buang disita oleh TKR di Desa Gethering Gresik dari Tentara Belanda pada 10 Desember 1945. Kemudian Tank AMP-TRACK yang digunakan dalam pertempuran para pejuang TRIP.
Koleksi
Dibagian belakang museum kita bisa melihat icon dari Museum Brawijaya yaitu gerbong maut sebuah gerbong barang yang digunakan untuk mengangkut 100 Pejuang Indonesia dari Bondowoso ke Surabaya dalam keadaan pintu tertutup rapat dan tanpa ada lubang angin, hingga menewaskan hampir seluruh penumpang dan menyisakan 12 orang selamat.
Koleksi yang terdapat di dalam museum antara lain mobil “DE SOTO USA” yaitu mobil yang digunakan Kolonel Soengkono sebagai kendaraan dinas yang pada waktu itu menjabat sebagai Panglima Divisi Brawijaya (Divisi I JATIM)1948-1950 di JATIM. Barang-barang peninggalan panglima besar jenderal Sudirman. Foto-foto jamna perjuangan hingga foto Malang tempo dulu. Komputer besa-besar jaman dulu dan lain-lain.

Museum ini terbagi menjadi lima lokasi tata pameran yaitu:

1. Lokasi Halaman Depan Halaman depan Museum Brawijaya diberi nama “Agne Yastra Loca” yang berarti taman senjata api revolusi. Halaman depan tersebut merupakan ruang pameran terbuka yang memamerkan benda-benda bersejarah khususnya senjata-senjata berat dan kendaran lapis baja yang memiliki nilai sejarah.
2. Ruang Lobi. Pada ruangan ini terdapat tiga koleksi yang dapat dilihat oleh para pengunjung, diantaranya:
A.Relief penugasan pasukan Brawijaya
B.Relief kekuasaan Kerajaan Majapahit
C.Lambang- lambang kesatuan / Kodam seluruh Indonesia.
3. Ruang 1. Koleksi yang terdapat pada ruangan ini mulai dari tahun 1945 – 1949. Pada ruangan ini pengunjung akan diperlihatakan benda-benda bersejarah, seperti mobil De Soto, foto-foto mantan panglima Jawa Timur, senjata api, dsb. Yang paling menarik dari ruangan ini yaitu terdapatnya meja dan kursi yang digunakan oleh Bung Karno, Bung Hatta, Kol. Soengkono dalam melakukan perundingan terhadap pihak Belanda yang disebut dengan “Perundingan meja bundar”.
4. Ruang 2. Koleksi yang terdapat pada ruangan ini mulai dari tahun 1950 – sekarang. Di ruangan ini terdapat benda-benda bersejarah seperti komputer yang digunakan pada masa itu, dsb. Di ruangan ini juga terdapat foto-foto yang menarik untuk dilihat, seperti foto-foto yang menceritakan operasi khusus yang dilakukan dalam menumpas pemberontakan yang terjadi di Indonesia, dan juga terdapat foto-foto kota Malang tempo dulu.
5. Halaman Tengah. Pada ruangan terbuka ini, pengunjung akan diperlihatkan 2 buah benda bersejarah yang memiliki cerita tersendiri sehingga memberikan nama yang menarik pada kedua benda tersebut. Nama pada kedua benda tersebut adalah “Gerbong Maut” dan “Perahu Sigigir”.

Lokasi Museum

Jl. Ijen No.25 A Malang
Telp. 0341-562 394

Transportasi

Jarak tempuh dari Bandara Udara : 15 Km
Jarak tempuh dari Pelabuhan Laut : 105 Km
Jarak tempuh dari Terminal Bus : 5 Km
Jarak tempuh dari Stasiun KA : 2 Km

Organisasi

Jumlah Pegawai 57 orang
Kurator : 8 orang
Konservator : 18 orang
Preparator : 6 orang
Bimb. Edukasi : 2 orang
Tenaga Fungsional : 5 orang
Bgn. Administrasi : 2 orang
Keamanan : 2 orang
Cleaning service : 14 orang

Program Museum
Pameran lukisan, ceramah, diskusi, penerbitan, dan lomba.

Jadwal kunjungan
Senin s/d Sabtu : Jam 08.00 - 14.00
Minggu/libur nasional : Jam 08.00 - 15.00

Harga Tiket
Dewasa/Anak-anak/Rombongan Rp 1.500,-

Fasilitas
Luas tanah / luas bangunan 10.500/3.200 M2
- R. Pameran tetap
- R. Auditorium
- R. Perpustakaan
- R. Lab/konservasi
- R. Penyimpanan koleksi
- R. Bengkel/preparasi
- R. Administrasi
- Toilet
- Kantin/cafeteria
- Audiovisual
- Tabung Pemadam Api

Sumber : Malang Kota

Candi Singosari


Candi Singosari terletak didesa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Ditemukan pada sekitar awal abad 18 (tahun 1800-1850) dengan pemberian nama/sebutan Candi Menara oleh orang Belanda.  Mungkin pemberian nama ini disebabkan bentuknya yang menyerupai menara. Sempat juga diberi nama Candi Cella oleh seorang ahli purbakala bangsa Eropa dengan berpedoman adanya empat buah celah pada dinding-dinidng dibagian tubuhnya. Juga menurut laporan dari W. Van Schmid yang mengunjungi candi ini pada tahun 1856, penduduk setempat menamakan Candi Cungkup. Akhirnya nama yang hingga sekarang dipakai adalah Candi Singosari karena letaknya di Singosari, adapula sebagian orang menyebutnya dengan Candi Renggo karena letaknya didesa Candirenggo.
Menurut laporan tertulis dari para pengunjung Candi Singosari dari tahun 1803 sampai 1939, dikatakan bahwa Candi Singosari merupakan kompleks percandian yang luas. Didalam kompleks tersebut didapatkan tujuh buah bangunan candi yang sudah runtuh dan banyak arca berserakan disana-sini. Salah satu dari tujuh candi yang dapat diselematkan dari kemusnahan adalah candi yang sekarang kita sebut Candi Singosari. Adapun arca-arcanya banyak yang dibawa ke Belanda, sedangkan arca-arca yang saat ini berada dihalaman Candi Singosari sekarang ini, berasal dari candi-candi yang sudah musnah itu.
Bentuk bangunan Candi Singosari sendiri bisa dibilang istimewa, karena candi itu seolah-olah mempunyai dua tingkatan. Seharusnya bilik-bilik candi berada pada bagian badan candi, pada Candi Singosari justru terdapat pada kaki candi. Bilik-bilik tersebut pada awalnya juga terdapat arca didalamnya yakni disebelah utara berisi arca Durgamahisasuramardhini, sebelah timur berisi arca Ganesha dan dibagian selatan terdapat arca Resi Guru yang biasa terkenal dengan sebutan Resi Agastya. Namun saat ini hanya tinggal arca Resi Agastya saja, sedangkan arca lainnya telah dibawa ke Leidan - Belanda. Alasan mengapa arca resi Agastya tidak dibawa serta ke Belanda adalah mungkin dikarenakan kondisinya yang sudah rusak cukup parah, sehingga tidak layak dibawa sebagai hadiah kepada penguasa negeri belanda pada saat itu.
Arca Dewi Parwati dengan kepala "aneh"-nya. Bagian kepala asli sebenarnya telah hilang dan tidak diketemukan             
Hal lain yang menarik untuk diamati pada Candi Singosari ini adalah hiasan candi. Umumnya bangunan candi dihias dengan hiasan yang rata pada seluruh badan atau bagian candi. Pada Candi Singosari kita tidak mendapatkan hal yang demikian. Hiasan Candi Singosari tidak seluruhnya diselesaikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Candi Singosari dahulu belum selesai dikerjakan tapi kemudian ditinggalkan. Sebab-sebab ditinggalkan tersebut dihubungkan dengan dengan adanya peperangan, yaitu serangan dari raja Jayakatwang dari kerajaan Gelang-gelang terhadap Raja Kertanegara kerajaan Singhasari yang terjadi pada sekitar tahun 1292. Serangan raja Jayakatwang tersebut dapat menghancurkan kerajaan Singhasari. Raja Kertanegara beserta pengikutnya dibunuh.  Diduga  karena masa kehancuran (pralaya) kerajaan Singhasari itulah, maka Candi Singosari tidak terselesaikan dan akhirnya terbengkalai.
Ketidak selesaian bangunan candi ini bermanfaat juga bagi kita yang ingin mengetahui teknik pembuatan ornamen (hiasan) candi. Tampak bahwa hiasan itu dikerjakan dari atas ke bawah. Bagian atas dikerjakan dengan sempurna, bagian tubuh candi (tengah) sebagian sudah selesai sedangkan bagian bawah sama sekali belum diselesaikan.
Dihalaman Candi Singosari masih terdapat beberapa arca yang tersisa, beberapa diantaranya berupa tubuh dewa/dewi meskipun bisa dibilang tidak utuh lagi. Bahkan terdapat satu arca Dewi Parwati yang memiliki bagian kepala yang terlihat "aneh". nampaknya bagian tersebut bukan merupakan kepala arca yang sebenarnya. Karena kepala arca yang sebenarnya diduga putus dan tidak ditemukan kembali.
Berkunjung ke Candi Singosari ini sambil memegang buku panduan wisata yang bercerita tentang sejarah candi Singosari, sempat menimbulkan kesedihan dihati saya. Betapa tidak, dibeberapa bagian halaman buku tersebut terpampang jelas foto-foto arca yang telah dibawa ke negeri Belanda, lengkap beserta penjelasan posisi/sikap beserta atribut-atibut yang dikenakan oleh tokoh arca tersebut. Foto-foto yang ada menunjukkan bahwa apa yang mereka (penjajah) bawa kenegeri mereka, memang merupakan arca yang masih utuh dengan tingkat seni yang bisa dibanggakan. Suatu hal yang bisa dibilang "perampokan" oleh bangsa Belanda terhadap seni-budaya bangsa Indonesia..

Sumber : Wisata Sejarah Kabupaten Malang